02 July 2011

Kemana kita malam ini : Bali

Setelah perjalanan panjang, melintas laut dengan kapal, kami sampai juga di Bali. Saya sempat bingung gitu di pelabuhan karena ternyata ada pemeriksaan KTP, dan berhubung saya anti sistem, saya tidak mau membuat KTP. Hahahaha gadeeeng, KTP saya ilang gitu, untung bisa gitu pake KTM. Singkat kata, kami sudah di daerah Kuta, di Poppies Lane, dimana supir taxi menyarankan kami untuk menginap di Balimanik. Balimanik cukup menyenangkan, 150ribu/malam, dekat dari mana – mana, lengkap dengan fasilitas kamar mandi dalam, kipas angin, serta kalau beruntung ada suara – suara MILF dari kamar sebelah, hahahahah.

Gak pake basa – basi, kami langsung cabcus ke Kuta. Saya dan Riki langsung surfing, si Rahmat lebih memilih untuk duduk – duduk dan jagain barang – barang. Yasudahlah mau bagaimana lagi, hidup adalah pilihan. Tidak lama juga kami surfing, hanya beberapa jam, dikarenakan ketika kami datang hari sudah menjelang sore dan sekarang sudah menjelang malam, dan sumpah.. itu dingin. Akhirnya pulang. Perjalanan pulang kami lewat Twisted Monkey dan berakhir dengan kacau beliau!

Keesokan paginya, sebenarnya sih keesokan siangnya kami menyewa motor dan langsung cabcus ke Tanah Lot dan disana sampai menjelang malam, dan pulangnya kami berkeliling untuk mencari tenda, jadi kami niatnya mau bikin tenda gitu di pinggir pantai, tapi si Riki nyari di Jakarta gak sempet, dan di Surabaya mahal, ternyata emang bener, pas di Bali dapet tenda murah gila gitu. Dari sana kembali ke Balimanik dan kembali tidur. Tapi sebelumnya sempet ke Kuta gitu ngetes tenda, jadi dipasang, didiriin, pas udah rapi langsung dibongkar lagi. Biarin deh orang mau bingung juga ngeliatnya.

Hari selanjutnya kami bangun siang dan putar – putar Bali. Malamnya kami duduk – duduk di depan teras kamar sambil memasak menggunakan Korlap, kami masak mie dan rasanya menyenangkan, ketika tamu – tamu yang lain melewati kami dan saling menyapa. Untuk menambah suasana, kami memutar musik, kali itu lagu yang saya putar adalah Jerusalem, yang dibawakan oleh Alpha Blondy and the Wailers. Tiba – tiba ada seorang bule, dari kamar sebelah yang datang dan dia langsung memanggil temannya ke tempat kami. Mereka mengobrol dalam bahasanya yang belakangan baru saya tau mereka itu dari Argentina.

Mereka menebak – nebak nama penyanyinya, dan saya mengingatkan kalau itu adalah Alpha Blondy, mereka teringat dan berangkat dari sana obrolan kami pun memanjang. Berhubung saya tidak bisa Bahasa Argentina dan mereka tidak bisa Bahasa Indonesia, kami mengobrol dalam Bahasa Inggris. Terimakasih Inggris Raya karena kamu sudah menjajah banyak negara, kalau tidak kami pasti bingung. Si Bule itu pun menanyakan apakah kami akan ke Reggae Bar malam ini, dan tentu saja kami iyakan. Ketika kami sedang menikmati mie kami yang sudah matang, tiba – tiba ada dua orang turis Jepang yang datang. Dia tidak bisa Bahasa Indonesia, dan saya tidak bisa Bahasa Jepang. Kalau kamu disana pasti lucu melihat kami mencoba mengobrol. Oh, Inggris Raya, harusnya dulu kamu jajah itu Jepang, biar kami bisa ngobrol.

Selesai makan, kami semua dandan gitu rapi deh pokoknya untuk berangkat ke Reggae Bar, dimana dua bule itu sudah tidak di kamarnya dan kami tidak tau Reggae Bar mana yang mereka maksud. Akhirnya kami datang saja ke Apache, dan langsung melantai dan lagi – lagi Rahmat memilih untuk duduk – duduk saja. Ketika sedang joget – joget sok asik, sambil nikmatin lagu, liat – liat mas – mas gimbal gitu bikin pengen cepet gondrong, eh ada bule gitu yang nyamperin saya sambil senyum,

“Your hair looks like Bob Marley when he was young!”
“THANK YOUU!! My name is Olip, and yours?”
“Hi Olip, I’m Karen!”
“Where do you come from?”
“Holland!”
“Aaaa! I’m from Jakarta” (gue bingung gitu mau ngaku warga Jogja apa orang Manado hahaha)
“Are you Muslim?”, si Karen tanya gitu.
“Yes I am!”, saya jawab dengan bangga gitu.
“Assalamualaikum!”


Waaah, entah kenapa saya sempet senyum – senyum sendiri gitu, dan muka saya jadi berbinar. Saya jawab salam dia, dan gak berapa lama akhirnya dia caw. Joget – joget lagi. Tiba – tiba gerah dan ngerasa saltum gitu karena kami kayanya kerapihan, akhirnya pulang ganti baju, balik lagi, joget lagi, dan tiba – tiba ada bule dateng lagi dan kali ini cowok, dia liat saya langsung teriak, “BOB MARLEY!!!” dan langsung meluk saya.

“No! no! I’m not him. Hahahah”
“Yes you are!! You are Bob Marley!”
“Hahahahah, what ‘s your name?”
“I’m Bob!”
“Hi, Bob, I’m Marley!”


Saya ngomong gitu dia langsung ngakak, terus saya dibawa gitu ke tempat temen – temennya, tapi saya gak ngerti mereka ngomong apa, saya belum bisa bahasa Bule Mabuk. Hahahah, gak lama kami pulang.

Keesokan siangnya kami check out, karena sudah punya tenda kami memutuskan pindah, kali ini ke Dreamland dan kali ini kami tidak menyewa motor, kami hanya diantar naik mobil dan sampai disana sudah saatnya sunset. Tapi ternyata Dreamland bukan tempat dimana tenda bisa didirikan, akhirnya cabut lagi, pindah ke Jimbaran. Di Jimbaran kami mendirikan tenda, dan jujur saja kami kurang nyaman di sana karena perlakuan penduduk lokal yang kami rasa kurang ramah. Kejadian itu membuat kami kembali lagi ke Balimanik keesokan paginya.

Keesokan harinya , saya bangun terakhir, yang lain sudah pada di balkon karena kamar kami kali itu ada di lantai 2. Sambil duduk, saya lihat di sebelah saya ada kakek – kakek. Si Riki suruh ajak ngobrol, katanya dia bisa Bahasa Indonesia, eh bener aja loh bisa. Sumpah deh nih orang kaya Mbah Surip, cuma versi Korea dan non-dreadlock. Udah tua, suaranya kenceng, ngaco lagi kalo ngobrol.

“Kamu kuliah di mana?” itu si Kakek tanya ke Riki.
“Saya di Atma Jaya, di Jakarta.”
“Ambil fakultas apa?”
“Hukum.”
“Berarti nanti kamu jadi pengkhianat.”

Tuh kan ngaco kan, sekarang giliran saya yang ditanya.

“Kamu kuliah dimana?”
“Yogyakarta”
“Fakultas apa?”
“Seni”
“????”
“Art”
“Aaaah, Art! Berarti kamu jadi Jigelo!”


Saya bingung gitu, saya pikir dia ngomong Bahasa Korea, terus dia ke kamar gitu ngambil kamus dan nunjukin ke satu kata. Gigolo! Dan saya disuruh baca arti kata itu yang kenceng. Ahahahaha ngaco ni ah komunis. Abis itu dia ngomongin Jasepat, dan saya gak ngerti gitu, dan dia nunjuk ke kamus, G – SPOT! dan saya disuruh baca lagi yang keras.
Terus dia tanya ke Rahmat,

“Kamu kuliah di mana?”
“Belum, dia masih SMA. Siswa, siswa!”
“Aaah siswa?! Kamu masuk kamar!”


Hahahah jadi Rahmat dianggep masih kecil dan belum boleh denger obrolan kita gitu. Dia memperkenalkan dirinya dan ditutup dengan, "Saya dari Korea Selatan, pindah ke Korea Utara. I am Communist but very gentleman". Kami ketawa – ketawa aja dan setelah itu saya dan Riki jalan – jalan sementara Rahmat istirahat karena kurang enak badan.

Kami melihat seorang Bli memasang sesajen, mengobrol banyak soal itu dan saya tersenyum ketika dia bilang, “kita semua sama, cuma beda kulitnya.” Seandainya semua orang mau memandang dari cara pandang Bli tersebut, dan seandainya semua tidak mudah terhasut oleh pihak – pihak yang mencoba memecah kita semua.

Saya dan Riki sekarang main – main ke Pasar Tradisional belanja - belanji, dan pulangnya ke Sanur. Di Sanur kami ngobrol – ngobrol lagi dengan ibu penjual makanan disana. Tentang bagaimana sebenenarnya toleransi di Bali, tentang dampak Bom Bali, serta tentang kenapa perlakuan penduduk lokal Jimbaran kepada kami seperti itu. Terlaknatlah kalian yang mengaku Muslim tetapi tidak bisa mengamalkan akar kata dari Islam itu sendiri, Salaam, yang berarti damai. Terlaknatlah bagaimana kalian membunuh dan mengatasnamakan agama.

Setelah itu balik lagi ke Balimanik. Kami ketemu lagi sama bule Argen itu, sumpah saya belum tau namanya, dan akhirnya saya tau kalo namanya Nikolas, dan saya tanya kemana temannya yang satu lagi, katanya si Jose lagi sakit.

Akhirnya kami tengok gitu kan ke kamarnya, saya tanya sakitnya apaan, katanya “too much party” hahahahahha, terus kami ngobrol banyak dan kalian pikir sendiri lah, mereka dari Argentina, apa yang kita obrolin. Kemudian kami ajak gitu mereka masak bareng makan bareng. Kami makan bareng sama bule dan rasanya lucu. Apalagi ngeliat mereka doyan gitu makan Indomie, dan kepedesan makan ayam yang pake bumbu Bali gitu, gimana kalo diajak makan Salero Bundo. Habis dari situ kembali lagi ke Twisted Monkey dan akhirnya kami berlima, kembali lagi ke Apache Reggae Bar. Saya, Riki, dan Rahmat tidak berapa lama di Reggae Bar tersebut karena kami kembali ke Balimanik, untuk sekedar bertassawuf dan mengambil kesimpulan dan pelajaran dari perjalanan kali ini, setelah itu kami menikmati kuta di malam hari. Malam itu benar – benar penutupan yang sempurna untuk sebuah perjalanan, benar – benar AAAAAH THANK YOU LORD, terimakasih untuk semuanya.

Keesokan harinya kami pulang, niatnya sih pengen ke Lombok sama Samalona gitu, tapi mengingat soal dana dan waktu, karena Rahmat harus persiapan demo ekskul, jadinya kami harus pulang. Tapi tenang, perjalanan kita belum berakhir, you think it’s the end, but it just the beginning. Okeh!

Dadah Bali, dadah lucu, mungkin gak ya bisa ketemu lagi.

1 comment:

  1. Wah bali, bawa duit berapa lip? seru sepertinya

    ReplyDelete