29 August 2010

Tembok derita

Baru liat - liat laptop Ical, ada foto lama yang belum sempat saya publish di sini



Ituloh yang namanya vandal

24 August 2010

part 3. Kepulangan

Hari itu sudah hari terakhir kami berada di Bandung. Dan penghuni paling terakhir kali itu adalah saya, Ical, Inne, Kinkin, Desta, dan Nadine. Dan itu adalah jam - jam terakhir sebelum Nadine pulang. Kami mengantar Nadine ke Stasiun dan membiarkannya pulang ke Malangnya.

Setelah dari sana kami kembali ke Galeri. Dua orang teman saya, Brenda dan Icul bilang kalau mereka mau datang ke Galeri. Dan mereka datang tidak bersama - sama karena mereka datang dari arah yang berbeda. Saya tunggu mereka berdua cukup lama dan mereka tidak datang juga. Akhirnya kami yang dikejar waktu memutuskan untung pergi buka di luar saja dan dilanjutkan dengan mengantar Kinkin dan mengurus kepulangan kami sendiri. Tapi baru saja naik angkot, Brenda telepon saya kalau dia sudah sampai galeri. Memang jodoh itu Maradonna, karena jodoh di tangan Tuhan. Saya tidak sempat bertemu dengan Brenda, tapi saya sempat bertemu Icul karena Icul nyamperin kami ke Simpang Dago dan memutuskan untuk berbuka saja bersama kami.

Dari Simpang Dago, Icul menemani kami semua ke Stasiun. Dan ternyata kereta berangkat 1 jam lebih lambat dari yang kami perkirakan. Dan jadilah kami memutuskan untuk ke Pasar Malam di dekat Stasiun dan main Bianglala. Hahahah, menyenangkan.



Dari situ kami pamitan dengan Icul, dia pulang dan kami menunggu di Stasiun. Saat kami menunggu di belakang kami ada tiga orang yang sedang berbincang - bincang tentang alay. Mereka bilang, "iya nama kaya gitu - gitu tuh pokoknya alay deh yah, pokoknya kaya misal orang kalo namanya di facebook udah ada tampan tampannya gitu pasti alay."

Saya menengok ke belakang dan bilang, "mbak temen saya namanya Tampan, tapi dia bukan alay." Desta nama panjangnya Tampan Destawan Subagyo dan saya sangat paham kalau dia berefrensi bagus dan tidak bisa dikategorikan sebagai alay. Dan apakah pengkategorian alay itu sekedar dari nama facebook, dan apakah orang yang mengkategorikan alay itu yakin kalau dia juga tidak alay?

"Serius mbak! namanya beneran Tampan, mau lihat KTPnya?", tanya saya. Kami berbincang dan akhirnya diketahui bahwa namanya Putri, dan tidak ditanyakan siapakah nama dua orang teman di sampingnya. Tak lama berselang  kereta datang.

Kami masuk ke dalam kereta dan bertemu ada dua orang duduk duduk di kursi kami, kursi yang seharusnya hanya diduduki oleh 4 orang. Dan kami pas berempat. Setelah ditanya ternyata orang sebelah memang salah gerbong, dan satunya lagi bernama Nisye. Dia menumpang di kursi kami untuk rute yang tidak jauh, hanya sekitar 2 stasiun. Dan kami mengobrol banyak dengan Nisye ini.



Dia adalah seorang penyiar, ramah, dan satu tahun kelahiran dengan saya, sama - sama 1411 Hijriah. Kami mengobrol dan tiba - tiba Desta menyuruh saya bangun.

"Eh bangun dulu!", pinta Desta
"Kenapa sih Des?", tanya saya
"Salam dulu sama yang tadi.", suruh Desta lagi
"Yang tadi siapa?", tanya saya lagi
"Ya makanya lu bangun dulu," suruh Desta lagi

Akhirnya saya bangun dari kursi saya dan melihat ke kursi belakang. Dan saya jadi tahu kenapa saya disuruh bangun sama Desta. Sayapun menyapa dengan ramah.

 "Halo mbak Putri~, kita ketemu lagi! kita bareng sampai Lempuyangan!"

part 2. Galeri Padi

Kami sampai di Galeri Padi. Banyak sekali yang kami lakukan sampai saya malas kalau harus menulisnya semua. Banyak yang datang, dan banyak juga yang tidak jadi datang karena kesibukan masing - masing dan hanya menitipkan karya.


 Itu yang gambar Desta, yang buat font saya, dan yang bagian motong - motong si Kinkin.


Dan disana ada Cabe dan Dhea. Dua pengunjung yang paling pertama datang, bahkan sebelum pameran dibuka. Dan coba lihat, disini ada tiga orang yang sempat - sempatnya masih membuat video tidak penting ditengah proses pendisplayan karya.


Begitu banyak yang kami lakukan, dan begitu banyak orang baru yang kami kenal. Walaupun kami tidak bermain - main dengan semua orang, bukan maksud kami sombong, mereka yang tidak membuka pintu dan mengijinkan kami masuk ke kehidupan mereka masing -masing.

Ini ada video, sekedar untuk menggambarkan suasana pembukaan kali itu. Saya minta maaf karena video pembukaan yang sebenarnya tidak bisa diunggah karena saya tidak tahu kenapa dengan bloggernya, yang ada hanya video ini, jadi anggap saja seolah - olah ini videonya.


video




Dan itu bukan foto all artist karena sudah saya bilang tidak semuanya datang. Dan kalau kalian mau tahu, kami tidur di galeri dan itu membuat galeri itu lebih mirip sebagai rumah penghuni terkahir. Karena setiap harinya penghuninya berkurang satu persatu untuk pulang ke kota masing - masing.

Kami buka dan sahur sama - sama. Kami naik mobil sama - sama. Mengunjungi sebuah Cafe sama - sama dan tidak jadi masuk sama - sama karena kami lebih memilih untuk nongkrong di Warkop sebelah Cafe sama - sama. Kami ke Asrama sama - sama untuk mengantar mbak Widy sama - sama.

Dan sesampainya di asrama, saya masuk ke dalam  untuk numpang pipis. Dan Oh Tuhan Yang Maha Baik, saya merasa seperti Jaka Tarub disana. Karena ada banyak gadis di lantai dua, yang mana terlaihat dari lantai satu sedang lari - larian dan main basah - basahan karena ada salah satu dari mereka yang ulang tahun.

Semua laki - laki baik yang pipis maupun yang non pipis masuk. Kami mengagumi ciptaan Tuhan dan saya mengusulkan, "ada yang mau kencing lagi gak? biar kita lamaan lagi? yakin gak ada yang mau? ada deh, masa gak mau sih." akhirnya kami pulang ke Galeri Padi penghuni teraktir.

Oh iya, saya hampir lupa cerita. Ada beberapa wartawan yang datang kala itu, dan Ical yang kala itu sedang duduk langsung saja memanggil salah satu dari mereka "Mas Giring". Yang dipanggil malah tertawa - tawa.


Kami foto dengan Mas Giring, dan teman - teman Mas Giring balas dendam dengan memfoto kami. Setelah itu kami kembali sibuk dengan kesibukan masing - masing.

Di malam terakhir kami empat membangunkan Nadine sahur dengan cara, "Nadine sahur Nadine..Sahur caur" dan kami joget - joget DRTV di depan dia. Sungguh cara yang membuat orang malas bangun dan lebih malas lagi untuk kembali tidur. Kami sahur dengan bertelanjang kaki, tapi yang bertelanjang kaki itu haya saya dan Ical, kasihanilah kami, kami tidak punya sendal dan malas memakai sepatu. Setelah itu kami membuat wishlist dan mengamini wishlist kami bersama - sama

part 1. Keberangkatan

Apakah kalian anak yang penurut? Kalau iya mungkin saja kalian menuruti postingan di atas, yang menyuruh kalian untuk datang ke Bandung. Ke Evening Memories. Kalian tau apa itu Evening Memories? itu adalah sebuah pameran, walaupun mama saya selalu mengingatkan untuk jangan pernah pamer, tapi saya berjiwa rebel, makanya saya berontak.

Diawali dengan keberangkatan menggunakan kereta ekonomi, kami berenam - enam ketepian. Ada saya, Ical, Desta, Kinkin, Inne, dan Widy. Kami masuk ke gerbong paling depan. Tapi tidak duduk dalam satu kursi, karena tidak muat. Kami berbincang - bincang dan datanglah seorang mas - mas tukang air yang memberitahukan bahwa gerbong paling belakang kosong. Jadilah saya dan Desta berjalan ke gerbong paling depan ke gerbong paling belakang untuk mengecek kebenarannya.

Kalian pernah naik kereta ekonomi? kalau pernah kalian pasti akrab dengan suara - suara seperti "Nasi pecel nasiiiii~" dengan pelafalan nasi kedua lebih panjang sekian harakat. Dan juga suara semisal "pisang sale pisang sale" atau "lanting lanting". Sale disitu dibaca sale sebagaimana mestinya, jadi jangan sok British dengan membacanya sel. Dan Lanting disana dibaca sebagaimana Lanting mestinya, jadi jangan sok tidak cadel dengan membacanya Ranting. Dan itu semua tidak penting, saya hanya menggambarkan suasana di kereta ekonomi saat saya harus berebut jalan dengan para pedagang tersebut.

Dan ternyata benar adanya, gerbong belakang sepi, akhirnya saya kembali ke gerbong depan untuk memberi tahu anak - anak dan mengajaknya untuk pindah gerbong. Saya berjalan sambil berteriak, "Kopi jahat, kopi jahat." atau terkadang, "Kolesom anget, kolesom anget" sekedar untuk menghibur diri saya sendiri dan menipu penumpang yang mungkin sempat berpikir, mana ada yang jualan kaya gituan di kereta.

Kami pindah gerbong  masih dengan menjajakan barang dagangan fiksi, barang - barang  haram yang bahkan tidak kami konsumsi apalagi untuk dijual di kereta. Sesampainya di gerbong ujung banyak yang kami lakukan
, seperti membuat video yang kami lakukan untuk kepuasan pribadi saja, jadi tidak akan saya unggah karena saya takut dapat beasiswa sampai lulus dari kampus karena saya telah melakukan sebuah prestasi yang mengangkat nama kampus.

Saya akan unggah beberapa gambar saja, sekedar menggambarkan situasi di kereta kala itu. Agar seolah - olah kalian merasakan yang kami rasakan.



Setelah merasa puas membuat video yang cukup mengganggu sekaligus mungkin menghibur penumpang lain, kami tertidur. Dan langsung dibangunkan dengan, "COY UDAH NYAMPE KIARA CONDONG! AYO TURUN! NTAR KEBURU BERANGKAT!"

Kami langsung mengambil tas masing - masing dan bergegas turun. Sesampainya di stasiun kami saling meyakinkan, ada yang ketinggalan gak. Dan saya baru ingat, "OH IYA KARYA GUE KETINGGALAN", akhirnya saya balik lagi ke kereta dan keluar sambil berpikir apa jadinya kalau sampai karya saya ketinggalan. Alhamdulillah, Tuhan memang Maha Baik.

Kami di stasiun sambil masih meyakinkan, "masih ada yang ketinggalan gak". Ical menjawab dengan bercanda, "harga diri lo kali ketinggalan" dan kami mengingat - ingat ternyata tas kamera yang berisikan perkakas belum terbawa, akhirnya Ical kembali naik kereta untuk mengambil tas tersebut.

Saya bilang ke anak - anak, "lucu kali yah, kalo lagi kaya gini tiba - tiba keretanya jalan." Dan benar saja keretanya jalan, "Ampun pak masinis! saya cuma bercanda!!!"

Dan Ical pun terbawa kereta tersebut. Dan Ical bahkan tidak keluar untuk sekedar berdadah dadah atau menginformasikan bahwa dia terbawa kereta.

Yasudahlah dadah Ical, sampai jumpa di depan ITB. Pokoknya sampai jumpa di depan ITB.

02 August 2010

Ruang tunggu masa depan

Sebuah acara yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Majelis Ta'lim. Kami hanya orang yang berbeda, menggambar di tempat yang sama, dengan teknik yang berbeda, di acara yang sama, dan hasil yang berbeda pula.

Yang menjadi persamaan dengan Majelis Ta'lim mungkin ketika kami menggambar, kami disuguhkan Bir Muslim (atau yang dalam Bahasa Belanda dikenal sebagai Teh Anget, dan berbagai macam gorengan atau yang dalam Bahasa Belanda dikenal sebagai Gorengan juga.)


Dan inilah kami selama proses pengerjaan tersebut



Dua orang lelaki disana adalah Disemutin Bersaudara, saya dan Abang Ical.
Dan seorang kimcil disana adalah, Hani, sahabat saya sedari kecil dulu. Walaupun sekarang saya sudah besar dan dia masih kecil, kami tetap menjunjung tinggi perbedaan dengan toleransi yang bisa ditolerir.

Video ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan video lipsync Chaos Racun, tetapi bila kalian ingin melihat gambaran suasana saat itu, bisa kalian saksikan. Tetapi kalau tidak mau juga tidak apa - apa, kita semua menghargai keputusan kalian sebagai individu yang merdeka.

video


Dan ini hasil gambar kami, judulnya Ruang tunggu masa depan. Bukan sebuah kebetulan kalau judul drawingnya sama dengan judul postingan blog ini, jadi begitu karena saya memutuskan begitu.



Dan ini gambar - gambar rekan yang lain