16 November 2008

Delapan belas, Delapan Sebelas bagian pertama

Hari dimana sepertinya sangat berharga buat seseorang. Entah kenapa, buat saya hari ini dari tahun ke tahun, bukanlah merupakan hari yang spesial. Sama saja seperti hari – hari biasa, hanya saja itu adalah hari dimana umur kita berkurang dan jatah hidup kita di dunia semakin menipis. Tapi, entah kenapa, tahun ini, saya merasa hari ini berharga.

Gadis itu terkejut setengah mati ketika melihat saya sudah berada di depan matanya. Saya hanya duduk – duduk malas saja di dekat telepon umum, sementara dia masih terduduk lemas ditengah jalan. Menjadi sebuah portal. Dan saya yang tidak mau mengganggu ketertiban umum membawa portal itu pergi.

Cukup berjalan. Sejenak meregangkan kaki dan mengisi amunisi untuk perut kami, dan tak lama kami berangkat. Ya.. rencana awalnya sih, puncak monas, dimana angin semilir berhembus dan membuat merasa ingin membawa tenda dan menginap disana saking pewenya. Tapi itu rencana saya, rencana saya.

Kami sampai, bukan, bukan di puncaknya, baru sampai di taman. Berbincang dan cukup menjadi pusat perhatian, seperti biasanya. Dia mengosongkan tasnya. Satu persatu keluar hingga tiba giliran sebuah kue coklat handmade special yang masih menempel di loyang yang sudah dijelaskan sejaranhnya dan cukup untuk membuat hati bergetar.


ZZZT…ZZZZTT…ZZZZZZTTTT… 1 message received.

Aaaah, freaaak

Saya tidak tahu kenapa dia ngotot kalau kue itu tidak enak, padahal saya suka sekali dengan kue itu. Kalaupun memang kalian berpendapat, “Ah, selera lo aja kali, lip yang aneh.” Pada kenyataannya, salah seorang anggota vanquish, sebut saja namanya Vivian, saya lupa nama Uunnya, juga berpendapat kalau dia juga suka kue yang melekat erat di loyang, serta hati tersebut.

Jadi tidak bisa disimpulkan kalau memang lidah saya saja yang kelainan, karena sudah jelas – jelas saya dan Uun berasal dari jenis kelamin, suku, ras, agama, antar golongan serta kelas sosial yang berbeda. (sebenarnya bukan hanya kelas sosial yang berbeda, sekolah juga berbeda. Lagipula, Uun kan berasal dari kelas Alam, bukan Sosial. Haha freak lo lip.)

Ya cukup dengan alur maju di saat dimana Uun sudah merasakan kuenya, sekarang kita kembali mundur, ke seting awal. Di taman tadi.

Dengan 3 buah lilin, anggap saja itu warna merah, kuning, serta hijau. Setelah ritual bla bla bla itu selesai, dia menatap saya.

“Ngee.. aku mau ngomong…”

No comments:

Post a Comment