13 September 2008

Debat

Selesainya main uno di parkiran, niatnya mau ke The Mansion, buka puasa disana.

Tapi panji bilang mau buka puasa di Obonk (udele obonk, hahah apasih freak!)

"Oh jadi gitu ji, lo lebih mentingin nyokap daripada sahabat?!"
"YA IYALAH!!" hahah sebuah pertanyaan bodoh, menjadi makin bodoh karena dijawab.

Akhirnya panji berniat ikut, tapi tidak sampai buka.

Akhirnya kami berangkat, Benny sendiri, Panji dengan Dudul, Dayu dengan saya.

Berjalan beriringan, bagai semut. Semut apa coba yg ngeluarin asep knalpot?!


Sepanjang perjalanan tidak kedengeran batang hidungnya Panji dengan Benny.

Dayu bertanya, "Anak - anak mana? dari pom bensin udah gak keliatan lagi?"
Saya bertanya balik, "Anak - anak mana day?"
Dayu bertanya, "Anak - anak mana lip kok gak keliatan?"
Saya menjawab, "Asal jangan ampe gak keliatan aja"

Pasti kalian bingung dengan dialog ini, kalau kami berdua yang melakukannya, akan menjadi lucu, tapi kalau orang lain yang melakukannya, entah kenapa malah membuat emosi. (dipikir ngmng kaya gitu ke orang, orang lain gak emosi, kali?!)

Akhirnya kami sampai duluan di The Mansion,

Saya cuci muka, nyisir, minum susu, cuci kaki, bobo. Ya kali dah, ini kan bulan puasa, masa saya cuci kaki pas bulan puasa.

Anak - anak masih belum sampai.

Akhirnya saya ganti baju, loncat ke kasur, tidur - tiduran, Dayu udah tidur beneran.

Anak - anak masih belum sampai.

Saya bosan, akhirnya saya nonton the darknight. Sebenernya saya nonton Jokernya karena sepanjang film saya cuma Fastforward, play, rewing, fastforward, play, nyari Jokernya.

Film kelar anak - anak masih belum sampai.

Kami main Uno stacko, sampai bosan.

Anak - anak masih belum sampai.

Ya, kali. Ini mah udah lama banget.

Feeling Dayu ada apa - apa.
Feeling saya ada ada - aja.

Berhubung sama - sama gak punya pulsa, dan sudah jam 5 kami berangkat keluar.

Berhenti beli pulsa, lalu lantas menelepon Panji.

Intinya Panji nganterin Dudul dulu, terus ke obonk.

Ya kali, orang mah nelpon kek, gak kenal teknologi amet.

Karena Panji gak ikut akhirnya kami membuat hipotesa bahwa Benny jadi males dan tidak ikut juga, dan orang pasti membuat hipotesa kalau saya dan Dayu itu gay.

Akhirnya kami beli Tajil buat buka.

Balik ke The Mansion.
Anak - anak masih belum sampai.
(Perasaan tadi udah diomongin deh kalo gak jadi dateng)

Saya bosan, saya telepon Partner in Crime saya, tapi dia belum pulang.

Akhirnya muter - muter channel, nyari siapa yang adzan maghribnya paling cepet. Kali aja ada stasiun tv yang iseng maghribnya jam 5. Tadinya juga saya mau nelpon ke MTV aja, minta request adzan maghrib, tapi pasti gak bakal diputerin.

Akhirnya ngulet - ngulet sendiri aja di kasur, siapa tau bisa naik daun.

Singkat kata akhirnya buka, dan singkatnya kami kenyang sama es kelapa yang dibeli 10.000 buat berdua, itu juga baru diminum setengahnya, setengah lagi masih nganggur di kulkas.

"Solat, lip, gua imam dah!"
"Entaran dah, day, belom bisa bangun gua."
"Yaudah, gua juga, entaran ya setengah tujuh."

Sudah setengah tujuh, saya sedang makan chitato, Dayu sedang nonton.

"Day, udah setengah tujuh."
"Yaudah, ayo."
"Bentaran yak, gua ngabisin ini dulu."
"Ok."

Chitato abis, Partner in Crime saya menelepon.
Saya angkat, ngobrol.

Singkat kata Dayu menyadarkan saya kalau kami belum solat. Akhirnya telepon saya pending.

"Eh, entar sambung lagi ye, gua belom solat."
"Oh iya, mau teraweh yaa."
"Engga, solat maghrib, hehehe."


Akhirnya kami wudhu, selesai.

Gelar sajadah kemudian saya bernyanyi dalam hati, ada sejadah panjang terbentang.., kemudian saya sadar, panjang apanya, sejadahnya cuma buat pala doang.

Melihat jam sudah jam 7.

"Ini maghrib kan, lip?"
"Kalo gini caranya sih ini Isya"
"Tapi kan kita belom solat maghrib."
"Tapi kan ini udah masuk waktu isya."
"Maghrib."
"Isya."
"Maghrib."
"Isya."
"Maghrib, belom adzan kan?"
"Yaudah, maghrib."

Kami sholat, dayu imam, iftitah, Al-fatihah,

"..صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ...."

Saya baru mau jawab, "Aaa..." dari "Amin"

Tiba - tiba ada yang jawab duluan.

"Allahu akbar, Allahu akbar."

Akhirnya kami gagal maghrib.

PiC saya bilang sih itu sah kalau dilanjutkan.
Tapi mengingat kami yang menunda - nunda, kayanya emang udah dosa di kami deh kalo gini caranya.

ZZZ

2 comments:

  1. widih...
    ceritanya cukup menyentuh hati nih...
    romantis bgt!!!
    hahahaha...
    tapi agak2 serem gtu...
    nah loh??

    ReplyDelete